LINI MASA (III)
Oktober-Desember 2016
Berulang kali memutuskan pergi. Berulang kali pula memutuskan kembali. Sulit mendeskripsikan bagaimana hubungan kami.
Di saat yang sama, orang tua saya beberapa kali berusaha mengenalkan saya dengan lelaki yang dirasa baik untuk mendampingi saya. Awalnya, saya mengiyakan setiap perkenalan, meski enggan. Saya tak ingin mengecewakan. Sekaligus berpikir, mungkin ada di antara mereka yang mampu mengalihkan pikiran dan perasaan saya untuknya. Nyatanya, saya tak pernah bisa. Bukan karena mereka tak baik. Semua, karena semata saya benar-benar tak bisa.
Pada satu titik, saya memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tua saya, "Maafkan saya. Bukan saya tak mau. Saya telah berusaha dan saya tak bisa. Ada seseorang yang saya cinta. Saya tak tahu apakah rasa ini berbalas atau tidak. Tapi saya benar-benar menyukainya."
Tak dinyana, setelahnya, orang tua saya memutuskan untuk berhenti mengenalkan saya dengan lelaki pilihannya. Mereka tidak marah. Tentangnya, mereka belum mengenalnya, tapi mereka tahu sosoknya. Untuk pertama kalinya, saya bercerita tentang lelaki pilihan saya, bahkan saat saya buta akan bagaimana perasaannya untuk saya. Ini jauh di luar kebiasaan saya.
14 Januari 2017
Di kota yang seyogiyanya istimewa, saat sejak sehari sebelumnya saya merasa begitu bahagia karena berhasil mengunjungi kota yang sejak lama saya harapkan, saya mendengar sebuah kabar dari sumber yang cukup terpercaya. Fakta tentang dia dan perasaannya. Dari raut dan kehatia-hatian saat memulai cerita, saya tahu kabar ini bukanlah kabar baik. Tapi fakta, meski tak baik, bagaimanapun selalu lebih baik daripada prasangka yang justru semakin menyiksa.
Katanya, sepertinya dia masih mengingat masa lalunya. Dan jika ada satu nama lain yang sering terucap dari mulutnya, itu pun bukan nama saya. :)
Ah, ini menyebalkan. Tak seharusnya saya bersedih di kota yang terkenal dengan keromantisannya. Seharusnya saya bersenang-senang. Tapi segala hal tentangnya memang cukup mempengaruhi suasana hati saya. Saya ingin segera kembali saja dan tak melakukan apa-apa.
Keesokan harinya, sesampainya di rumah, saya mengosongkan meja kamar saya dari semua hal yang berkaitan dengannya. Sudah cukup. Saya ingin berhenti saja.
Tak dinyana, setelahnya, orang tua saya memutuskan untuk berhenti mengenalkan saya dengan lelaki pilihannya. Mereka tidak marah. Tentangnya, mereka belum mengenalnya, tapi mereka tahu sosoknya. Untuk pertama kalinya, saya bercerita tentang lelaki pilihan saya, bahkan saat saya buta akan bagaimana perasaannya untuk saya. Ini jauh di luar kebiasaan saya.
14 Januari 2017
Di kota yang seyogiyanya istimewa, saat sejak sehari sebelumnya saya merasa begitu bahagia karena berhasil mengunjungi kota yang sejak lama saya harapkan, saya mendengar sebuah kabar dari sumber yang cukup terpercaya. Fakta tentang dia dan perasaannya. Dari raut dan kehatia-hatian saat memulai cerita, saya tahu kabar ini bukanlah kabar baik. Tapi fakta, meski tak baik, bagaimanapun selalu lebih baik daripada prasangka yang justru semakin menyiksa.
Katanya, sepertinya dia masih mengingat masa lalunya. Dan jika ada satu nama lain yang sering terucap dari mulutnya, itu pun bukan nama saya. :)
Ah, ini menyebalkan. Tak seharusnya saya bersedih di kota yang terkenal dengan keromantisannya. Seharusnya saya bersenang-senang. Tapi segala hal tentangnya memang cukup mempengaruhi suasana hati saya. Saya ingin segera kembali saja dan tak melakukan apa-apa.
Keesokan harinya, sesampainya di rumah, saya mengosongkan meja kamar saya dari semua hal yang berkaitan dengannya. Sudah cukup. Saya ingin berhenti saja.
0 comments