Setelah semua yang seharusnya jelas, tak membuat segalanya tuntas, hari-hari penuh kepuraan dimulai. Tak mudah bersikap seakan tak terjadi apa-apa sembari terus berusaha untuk melupa. Tak henti-hentinya saya berdoa, "Tuhan, jika dia memang bukan jodoh saya, mudahkan proses saya dalam menghilangkan rasa untuknya. Karena saya tak lagi sanggup untuk menanggungnya."
Bli, seorang yang dengan rela menyediakan kupingnya untuk cerita-cerita tentangnya, menyesalkan apa yang saya lakukan. Sejak awal, Bli tak pernah setuju dengan rencana pengakuan perasaan. Bli tak pernah tega membiarkan kawannya menerima kenyataan bahwa perasaannya bertepuk sebelah tangan. Tetapi Bli yang sudah sangat mengenal saya, sudah hafal betul bahwa saya bukan orang yang bisa begitu saja dinasihati meski tahu apa yang akan terjadi. Bli, lagi-lagi menyarankan saya untuk berhenti.
Saya pernah berusaha menghindari tanpa menghubungi. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu, justru dia yang sesukanya datang dengan pesan singkatnya dan bertanya, "kamu ke mana saja?". Dan saya dengan bodohnya kembali menanggapinya. Siklus ini terjadi beberapa kali dan membuat saya lelah sendiri.
Saya bukannya tak berusaha membuka hati untuk laki-laki lain. Saya masih mencoba. Seseorang dari masa lalu sempat kembali hadir dalam hidup saya. Kami berkawan cukup dekat sejak lama. Pertemuan dan percakapan singkat, mungkinkah ada maksud tersirat?! Keengganan untuk memulai dengan seseorang yang baru, sempat membuat saya berpikir untuk kembali dengan memperbaiki masa lalu. Saat itu, saya berpikir untuk kembali tanpa tahu apakah hadirnya juga dengan maksud untuk kembali. Meski pembicaraan di antara kami, beberapa kali menjurus pada hubungan yang serius.
17 Mei 2017
17 Mei 2017
Dia dan masa lalu, keduanya abu-abu. Untuknya, saya menetapkan tenggat waktu, sementara mengulur waktu untuk masa lalu. Dia dan masa lalu, keduanya tak tahu. Saya hanya ingin menyelesaikannya satu persatu. Saya tak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi di depan nanti. Yang saya tahu sudah saatnya saya menentukan persimpangan mana yang harus dilalui. Tapi sebaik apapun kita berencana, selalu ada rencana lebih baik yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Hari ulang tahunnya, adalah tenggat waktu yang saya tetapkan untuknya. Saya memutuskan untuk melakukan segala yang saya bisa untuk menunjukkan bahwa perasaan saya masih sama. Dan setelahnya, saya memutuskan untuk mundur secara perlahan, agar tak lagi terjebak dalam siklus yang tak berkesudahan. Setidaknya, saya sudah pernah mengungkapkan juga menunjukkan.
Masih di hari yang sama, tentang masa lalu, perkara mengulur waktu, sepertinya bukan keputusan yang tepat untuk bersama melangkah maju dengan tujuan yang satu. Saat itu saya sadar, meski telah bertahun berlalu, kami tetaplah kami yang dulu. Kami tak bisa bersatu.
Hari ulang tahunnya, adalah tenggat waktu yang saya tetapkan untuknya. Saya memutuskan untuk melakukan segala yang saya bisa untuk menunjukkan bahwa perasaan saya masih sama. Dan setelahnya, saya memutuskan untuk mundur secara perlahan, agar tak lagi terjebak dalam siklus yang tak berkesudahan. Setidaknya, saya sudah pernah mengungkapkan juga menunjukkan.
Masih di hari yang sama, tentang masa lalu, perkara mengulur waktu, sepertinya bukan keputusan yang tepat untuk bersama melangkah maju dengan tujuan yang satu. Saat itu saya sadar, meski telah bertahun berlalu, kami tetaplah kami yang dulu. Kami tak bisa bersatu.
