facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Buku
  • Jurnal
  • About

Titik Temu

Nadira, pertama kali menarik hati saya saat masih diterbitkan dengan judul "9 dari Nadira". Buku kumpulan cerpen karya Leila S. Chudori ini berisi sebelas cerita yang keseluruhannya berkaitan dengan Nadira.

Sejak awal cerita, kita disuguhkan dengan kisah tragis ditemukannya Ibu Nadira dalam kondisi tak bernyawa karena bunuh diri. Nadira diceritakan sebagai tokoh yang memiliki dunianya sendiri. Nadira dengan kebenciannya dengan kakak kandungnya, Yu Nina. Nadira yang lebih memilih kolong meja kantornya untuk memejamkan mata, agar tak melulu dihantui kenangan akan ibunya. Nadira yang jatuh cinta, juga terlambat menyadari cinta.

Nadira bukan sekadar cerita. Nadira adalah kumpulan kesedihan dan kegetiran seorang anak manusia yang terangkum dalam potongan-potongan cerita. Sebagai pembaca, kita diajak menyelami rasa yang tak lekas hilang sesaaat setelah selesai membaca. Dituturkan dengan bahasa yang enak untuk dibaca, Leila berhasil membuat saya terkesiap masuk ke dalam cerita untuk beberapa waktu.

Nadira begitu suram hingga membuat saya bertanya "kapan sebenarnya Nadira merasa benar bahagia? Apakah saat di mana ia jatuh cinta?". Nadira, membuat saya patah hati berkali-kali. Dari sebelas cerita, "Ciuman Terpanjang" menjadi kisah favorit saya. Dalam kisah ini, saya mengagumi sosok Kang Arya, kakak Nadira yang justru mengkhawatirkan hidup Nadira yang mulai berwarna.
"Kata, kata, kata. Kenapa kata-kata justru sering mengaburkan makna."
February 18, 2019 No comments

1 Februari 2017
Sejak memutuskan untuk berhenti, saya masih bertemu dengannya karena memang kami berada dalam lingkup yang sama. Kami pun masih sering pulang kerja bersama. Semuanya masih sama, kecuali sikap saya yang lebih banyak diam. Cenderung sinis, meski dia berusaha bersikap manis. Cenderung acuh hingga membuatnya mengeluh. 

Hari itu kami memutuskan untuk terlebih dahulu makan malam bersama sekembalinya dari kantor.Tak banyak obrolan di antara kami, tapi saya tahu rautnya menyimpan tanya, yang kemudian dilontarkannya setelah kami selesai makan.
"Kamu kenapa? Kamu marah?"
"Tidak!"
"Kamu yakin?"
"...Aku memang marah. Tapi bukan padamu. Aku marah pada diriku sendiri karena harus menyukaimu!"
"..."
Hening kemudian. Tak ada tanggapan setelah akhirnya terungkapkan.
Saya bukan mengharapkan keajaiban. Saya hanya ingin menuntaskan apa yang saya rasakan. Saya berpikir, bahwa selagi kita bisa, jika pada akhirnya kita akan merasa sakit, mengapa kita tak mempersingkat rasa sakit. Dan bagi saya, cara tercepat menuntaskan dan mengikhlaskan adalah dengan menuntaskan rasa penasaran hingga tak ada lagi pertanyaan.

Nyatanya, semua di luar ekpektasi saya. Dia bungkam, tanpa sepatah pun kata. Kami pulang begitu saja. Ternyata sia-sia. Saya malu, juga sedikit kecewa. Tapi tak ada air mata.

Sesampainya di rumah, saya kirimkan pesan singkat untuknya. Meminta maaf karena telah membebaninya dengan apa yang saya rasa, dan memintanya untuk bersikap biasa saja, karena saya pun memutuskan untuk bersikap biasa, seakan tak terjadi apa-apa.

Pesan singkat saya berbalas "Iya tak apa. Saya akan bersikap seperti biasa. Maaf, selama ini saya sudah menggapmu seperti adik sendiri."

Setelahnya, saya benci dengan panggilan "dek" darinya.



February 02, 2019 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Mr. & Mrs. Bahari

Follow Us

Labels

Buku Jurnal

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2019 (3)
    • ►  May (1)
    • ▼  February (2)
      • BUKU : NADIRA KARYA LEILA S. CHUDORI
      • LINI MASA (IV)
  • ►  2018 (4)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)

Created with by ThemeXpose