facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Buku
  • Jurnal
  • About

Titik Temu


Buku ini menceritakan tentang perjuangan Matt Haig, sang penulis dalam mengatasi gangguan kecemasan dan depresi yang pernah mendorongnya untuk mengakhiri hidup.

Dikemas dalam bab-bab singkat yang saling berkaitan, ia mengawali kisah dengan rencana bunuh diri dan segala ketakukannya hingga upayanya untuk bangkit kembali. Buku yang tidak menggurui namun mampu mengajak untuk memahami.

Melalui buku ini, kita diajak melihat ke dalam diri, untuk mewaspadai potensi serangan gangguan kecemasan dan depresi yang dapat dialami oleh siapa saja. Juga melihat sekitar, untuk dapat bertoleransi dan mendampingi mereka yang mengalami depresi di sekitar kita. Karena depresi adalah penyakit yang harus disembuhkan. Depresi, memang tak jelas terlihat, tapi nyata adanya. 

Matt Haig, seakan mengajak siapa saja yang mengalami hal serupa, untuk bangkit bersama dan berbicara tentang apa yang dirasa. 

Buku yang saya baca ini ialah versi terjemahan dari buku dengan judul yang sama. Meski demikian, versi terjemahan ini cukup enak untuk dibaca.
"Mungkin depresi hanyalah awan gelap di langit, tapi kalau metaforanya seperti itu, Anda-lah langitnya." -Matt Haig
Yang perlu kita pahami, bahwa depresi dapat menyerang siapa saja, tapi bukan berarti kita bebas melabeli diri  bahwa kita pengidap depresi tanpa ilmu yang mendasari :)
December 30, 2018 No comments

Oktober-Desember 2016
Berulang kali memutuskan pergi. Berulang kali pula memutuskan kembali. Sulit mendeskripsikan bagaimana hubungan kami. 

Di saat yang sama, orang tua saya beberapa kali berusaha mengenalkan saya dengan lelaki yang dirasa baik untuk mendampingi saya. Awalnya, saya mengiyakan setiap perkenalan, meski enggan. Saya tak ingin mengecewakan. Sekaligus berpikir, mungkin ada di antara mereka yang mampu mengalihkan pikiran dan perasaan saya untuknya. Nyatanya, saya tak pernah bisa. Bukan karena mereka tak baik. Semua, karena semata saya benar-benar tak bisa. 

Pada satu titik, saya memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tua saya, "Maafkan saya. Bukan saya tak mau. Saya telah berusaha dan saya tak bisa. Ada seseorang yang saya cinta. Saya tak tahu apakah rasa ini berbalas atau tidak. Tapi saya benar-benar menyukainya."

Tak dinyana, setelahnya, orang tua saya memutuskan untuk berhenti mengenalkan saya dengan lelaki pilihannya. Mereka tidak marah. Tentangnya, mereka belum mengenalnya, tapi mereka tahu sosoknya. Untuk pertama kalinya, saya bercerita tentang lelaki pilihan saya, bahkan saat saya buta akan bagaimana perasaannya untuk saya. Ini jauh di luar kebiasaan saya.

14 Januari 2017
Di kota yang seyogiyanya istimewa, saat sejak sehari sebelumnya saya merasa begitu bahagia karena berhasil mengunjungi kota yang sejak lama saya harapkan, saya mendengar sebuah kabar dari sumber yang cukup terpercaya. Fakta tentang dia dan perasaannya. Dari raut dan kehatia-hatian saat memulai cerita, saya tahu kabar ini bukanlah kabar baik. Tapi fakta, meski tak baik, bagaimanapun selalu lebih baik daripada prasangka yang justru semakin menyiksa.

Katanya, sepertinya dia masih mengingat masa lalunya. Dan jika ada satu nama lain yang sering terucap dari mulutnya, itu pun bukan nama saya. :)

Ah, ini menyebalkan. Tak seharusnya saya bersedih di kota yang terkenal dengan keromantisannya. Seharusnya saya bersenang-senang. Tapi segala hal tentangnya memang cukup mempengaruhi suasana hati saya. Saya ingin segera kembali saja dan tak melakukan apa-apa.

Keesokan harinya, sesampainya di rumah, saya mengosongkan meja kamar saya dari semua hal yang berkaitan dengannya. Sudah cukup. Saya ingin berhenti saja.

December 26, 2018 No comments

26-28 Agustus 2016
Banyak hal berubah. Jauh dari apa yang pernah saya bayangkan. Sekembalinya kami dari perjalanan yang membuka mata saya, hubungan pertemanan yang terjalin di antara kami semakin intens. Kami lebih sering bertukar kabar dan cerita receh. Menyenangkan sekaligus menakutkan. Menikmati sekaligus ingin berhenti. Karena yang saya tahu, kami tak saling melihat dengan cara yang sama. 

Pada pendakian pertama dalam hidup saya, 4 orang perempuan, 3 orang lelaki, dia salah satunya. Di tengah perjalanan, saya memaksakan diri untuk ikut rombongan melanjutkan perjalanan menuju puncak, meski saya cukup tahu bahwa kondisi saya tak cukup baik untuk melanjutkan. Saya tak ingin tinggal di saat yang sama dia memutuskan untuk tinggal karena kondisinya yang juga tak memungkinkan. Keegoisan saya untuk tetap ikut, membuat rombongan kami gagal mencapai puncak karena kondisi saya melemah. Maaf untuk Kalian yang selama ini tak benar-benar tahu alasan saya untuk melanjutkan perjalanan. 

Satu hal yang saya sadari, besarnya usaha saya untuk menolak persaaan itu, ternyata tak pernah cukup sebanding dengan rasa yang ada.

September 2016
Bulan ini, pada hari yang hanya selisih sehari, masa lalu kami sama-sama melangsungkan pernikahan. Kebetulan?
Tentu tidak. Saya percaya semua adalah rencana Tuhan.

Kami tak melalui hari bersama, meski saya sempat mengajaknya untuk menghadiri pernikahan masa lalu saya. Mungkin Tuhan memang belum mengizinkan. Karena meski saya telah mengusahakan untuk kembali lebih awal dari sebuah perjalanan agar bisa menghadirinya, kemacetan membuat saya terjebak.

Setelahnya, pada sebuah pertemuan singkat, dia berkata, "Ikhlaskan saja! Doakan Kebahagaiaannya!"
Di hadapannya saya berkata, "Aku benar-benar tak apa. Kamu yang seharusnya mengikhlaskan :)" 
Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya berusaha keras untuk datang.  Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya menaruh rasa padanya.





December 04, 2018 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Mr. & Mrs. Bahari

Follow Us

Labels

Buku Jurnal

recent posts

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ▼  2018 (4)
    • ▼  December (3)
      • BUKU : REASONS TO STAY ALIVE KARYA MATT HAIG
      • LINI MASA (III)
      • LINI MASA (II)
    • ►  November (1)

Created with by ThemeXpose