facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Buku
  • Jurnal
  • About

Titik Temu


Februari - April 2017
Setelah semua yang seharusnya jelas, tak membuat segalanya tuntas, hari-hari penuh kepuraan dimulai. Tak mudah bersikap seakan tak terjadi apa-apa sembari terus berusaha untuk melupa. Tak henti-hentinya saya berdoa, "Tuhan, jika dia memang bukan jodoh saya, mudahkan proses saya dalam menghilangkan rasa untuknya. Karena saya tak lagi sanggup untuk menanggungnya."

Bli, seorang yang dengan rela menyediakan kupingnya untuk cerita-cerita tentangnya, menyesalkan apa yang saya lakukan. Sejak awal, Bli tak pernah setuju dengan rencana pengakuan perasaan. Bli tak pernah tega membiarkan kawannya menerima kenyataan bahwa perasaannya bertepuk sebelah tangan. Tetapi Bli yang sudah sangat mengenal saya, sudah hafal betul bahwa saya bukan orang yang bisa begitu saja dinasihati meski tahu apa yang akan terjadi. Bli, lagi-lagi menyarankan saya untuk berhenti.

Saya pernah berusaha menghindari tanpa menghubungi. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu, justru dia yang sesukanya datang dengan pesan singkatnya dan bertanya, "kamu ke mana saja?". Dan saya dengan bodohnya kembali menanggapinya. Siklus ini terjadi beberapa kali dan membuat saya lelah sendiri.

Saya bukannya tak berusaha membuka hati untuk laki-laki lain. Saya masih mencoba. Seseorang dari masa lalu sempat kembali hadir dalam hidup saya. Kami berkawan cukup dekat sejak lama. Pertemuan dan percakapan singkat, mungkinkah ada maksud tersirat?! Keengganan untuk memulai dengan seseorang yang baru, sempat membuat saya berpikir untuk kembali dengan memperbaiki masa lalu. Saat itu, saya berpikir untuk kembali tanpa tahu apakah hadirnya juga dengan maksud untuk kembali. Meski pembicaraan di antara kami, beberapa kali menjurus pada hubungan yang serius.

17 Mei 2017
Dia dan masa lalu, keduanya abu-abu. Untuknya, saya menetapkan tenggat waktu, sementara mengulur waktu untuk masa lalu. Dia dan masa lalu, keduanya tak tahu. Saya hanya ingin menyelesaikannya satu persatu. Saya tak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi di depan nanti. Yang saya tahu sudah saatnya saya menentukan persimpangan mana yang harus dilalui. Tapi sebaik apapun kita berencana, selalu ada rencana lebih baik yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Hari ulang tahunnya, adalah tenggat waktu yang saya tetapkan untuknya. Saya memutuskan untuk melakukan segala yang saya bisa untuk menunjukkan bahwa perasaan saya masih sama. Dan setelahnya, saya memutuskan untuk mundur secara perlahan, agar tak lagi terjebak dalam siklus yang tak berkesudahan. Setidaknya, saya sudah pernah mengungkapkan juga menunjukkan.

Masih di hari yang sama, tentang masa lalu, perkara mengulur waktu, sepertinya bukan keputusan yang tepat untuk bersama melangkah maju dengan tujuan yang satu. Saat itu saya sadar, meski telah bertahun berlalu, kami tetaplah kami yang dulu. Kami tak bisa bersatu.




May 14, 2019 No comments
Nadira, pertama kali menarik hati saya saat masih diterbitkan dengan judul "9 dari Nadira". Buku kumpulan cerpen karya Leila S. Chudori ini berisi sebelas cerita yang keseluruhannya berkaitan dengan Nadira.

Sejak awal cerita, kita disuguhkan dengan kisah tragis ditemukannya Ibu Nadira dalam kondisi tak bernyawa karena bunuh diri. Nadira diceritakan sebagai tokoh yang memiliki dunianya sendiri. Nadira dengan kebenciannya dengan kakak kandungnya, Yu Nina. Nadira yang lebih memilih kolong meja kantornya untuk memejamkan mata, agar tak melulu dihantui kenangan akan ibunya. Nadira yang jatuh cinta, juga terlambat menyadari cinta.

Nadira bukan sekadar cerita. Nadira adalah kumpulan kesedihan dan kegetiran seorang anak manusia yang terangkum dalam potongan-potongan cerita. Sebagai pembaca, kita diajak menyelami rasa yang tak lekas hilang sesaaat setelah selesai membaca. Dituturkan dengan bahasa yang enak untuk dibaca, Leila berhasil membuat saya terkesiap masuk ke dalam cerita untuk beberapa waktu.

Nadira begitu suram hingga membuat saya bertanya "kapan sebenarnya Nadira merasa benar bahagia? Apakah saat di mana ia jatuh cinta?". Nadira, membuat saya patah hati berkali-kali. Dari sebelas cerita, "Ciuman Terpanjang" menjadi kisah favorit saya. Dalam kisah ini, saya mengagumi sosok Kang Arya, kakak Nadira yang justru mengkhawatirkan hidup Nadira yang mulai berwarna.
"Kata, kata, kata. Kenapa kata-kata justru sering mengaburkan makna."
February 18, 2019 No comments

1 Februari 2017
Sejak memutuskan untuk berhenti, saya masih bertemu dengannya karena memang kami berada dalam lingkup yang sama. Kami pun masih sering pulang kerja bersama. Semuanya masih sama, kecuali sikap saya yang lebih banyak diam. Cenderung sinis, meski dia berusaha bersikap manis. Cenderung acuh hingga membuatnya mengeluh. 

Hari itu kami memutuskan untuk terlebih dahulu makan malam bersama sekembalinya dari kantor.Tak banyak obrolan di antara kami, tapi saya tahu rautnya menyimpan tanya, yang kemudian dilontarkannya setelah kami selesai makan.
"Kamu kenapa? Kamu marah?"
"Tidak!"
"Kamu yakin?"
"...Aku memang marah. Tapi bukan padamu. Aku marah pada diriku sendiri karena harus menyukaimu!"
"..."
Hening kemudian. Tak ada tanggapan setelah akhirnya terungkapkan.
Saya bukan mengharapkan keajaiban. Saya hanya ingin menuntaskan apa yang saya rasakan. Saya berpikir, bahwa selagi kita bisa, jika pada akhirnya kita akan merasa sakit, mengapa kita tak mempersingkat rasa sakit. Dan bagi saya, cara tercepat menuntaskan dan mengikhlaskan adalah dengan menuntaskan rasa penasaran hingga tak ada lagi pertanyaan.

Nyatanya, semua di luar ekpektasi saya. Dia bungkam, tanpa sepatah pun kata. Kami pulang begitu saja. Ternyata sia-sia. Saya malu, juga sedikit kecewa. Tapi tak ada air mata.

Sesampainya di rumah, saya kirimkan pesan singkat untuknya. Meminta maaf karena telah membebaninya dengan apa yang saya rasa, dan memintanya untuk bersikap biasa saja, karena saya pun memutuskan untuk bersikap biasa, seakan tak terjadi apa-apa.

Pesan singkat saya berbalas "Iya tak apa. Saya akan bersikap seperti biasa. Maaf, selama ini saya sudah menggapmu seperti adik sendiri."

Setelahnya, saya benci dengan panggilan "dek" darinya.



February 02, 2019 No comments

Buku ini menceritakan tentang perjuangan Matt Haig, sang penulis dalam mengatasi gangguan kecemasan dan depresi yang pernah mendorongnya untuk mengakhiri hidup.

Dikemas dalam bab-bab singkat yang saling berkaitan, ia mengawali kisah dengan rencana bunuh diri dan segala ketakukannya hingga upayanya untuk bangkit kembali. Buku yang tidak menggurui namun mampu mengajak untuk memahami.

Melalui buku ini, kita diajak melihat ke dalam diri, untuk mewaspadai potensi serangan gangguan kecemasan dan depresi yang dapat dialami oleh siapa saja. Juga melihat sekitar, untuk dapat bertoleransi dan mendampingi mereka yang mengalami depresi di sekitar kita. Karena depresi adalah penyakit yang harus disembuhkan. Depresi, memang tak jelas terlihat, tapi nyata adanya. 

Matt Haig, seakan mengajak siapa saja yang mengalami hal serupa, untuk bangkit bersama dan berbicara tentang apa yang dirasa. 

Buku yang saya baca ini ialah versi terjemahan dari buku dengan judul yang sama. Meski demikian, versi terjemahan ini cukup enak untuk dibaca.
"Mungkin depresi hanyalah awan gelap di langit, tapi kalau metaforanya seperti itu, Anda-lah langitnya." -Matt Haig
Yang perlu kita pahami, bahwa depresi dapat menyerang siapa saja, tapi bukan berarti kita bebas melabeli diri  bahwa kita pengidap depresi tanpa ilmu yang mendasari :)
December 30, 2018 No comments

Oktober-Desember 2016
Berulang kali memutuskan pergi. Berulang kali pula memutuskan kembali. Sulit mendeskripsikan bagaimana hubungan kami. 

Di saat yang sama, orang tua saya beberapa kali berusaha mengenalkan saya dengan lelaki yang dirasa baik untuk mendampingi saya. Awalnya, saya mengiyakan setiap perkenalan, meski enggan. Saya tak ingin mengecewakan. Sekaligus berpikir, mungkin ada di antara mereka yang mampu mengalihkan pikiran dan perasaan saya untuknya. Nyatanya, saya tak pernah bisa. Bukan karena mereka tak baik. Semua, karena semata saya benar-benar tak bisa. 

Pada satu titik, saya memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tua saya, "Maafkan saya. Bukan saya tak mau. Saya telah berusaha dan saya tak bisa. Ada seseorang yang saya cinta. Saya tak tahu apakah rasa ini berbalas atau tidak. Tapi saya benar-benar menyukainya."

Tak dinyana, setelahnya, orang tua saya memutuskan untuk berhenti mengenalkan saya dengan lelaki pilihannya. Mereka tidak marah. Tentangnya, mereka belum mengenalnya, tapi mereka tahu sosoknya. Untuk pertama kalinya, saya bercerita tentang lelaki pilihan saya, bahkan saat saya buta akan bagaimana perasaannya untuk saya. Ini jauh di luar kebiasaan saya.

14 Januari 2017
Di kota yang seyogiyanya istimewa, saat sejak sehari sebelumnya saya merasa begitu bahagia karena berhasil mengunjungi kota yang sejak lama saya harapkan, saya mendengar sebuah kabar dari sumber yang cukup terpercaya. Fakta tentang dia dan perasaannya. Dari raut dan kehatia-hatian saat memulai cerita, saya tahu kabar ini bukanlah kabar baik. Tapi fakta, meski tak baik, bagaimanapun selalu lebih baik daripada prasangka yang justru semakin menyiksa.

Katanya, sepertinya dia masih mengingat masa lalunya. Dan jika ada satu nama lain yang sering terucap dari mulutnya, itu pun bukan nama saya. :)

Ah, ini menyebalkan. Tak seharusnya saya bersedih di kota yang terkenal dengan keromantisannya. Seharusnya saya bersenang-senang. Tapi segala hal tentangnya memang cukup mempengaruhi suasana hati saya. Saya ingin segera kembali saja dan tak melakukan apa-apa.

Keesokan harinya, sesampainya di rumah, saya mengosongkan meja kamar saya dari semua hal yang berkaitan dengannya. Sudah cukup. Saya ingin berhenti saja.

December 26, 2018 No comments

26-28 Agustus 2016
Banyak hal berubah. Jauh dari apa yang pernah saya bayangkan. Sekembalinya kami dari perjalanan yang membuka mata saya, hubungan pertemanan yang terjalin di antara kami semakin intens. Kami lebih sering bertukar kabar dan cerita receh. Menyenangkan sekaligus menakutkan. Menikmati sekaligus ingin berhenti. Karena yang saya tahu, kami tak saling melihat dengan cara yang sama. 

Pada pendakian pertama dalam hidup saya, 4 orang perempuan, 3 orang lelaki, dia salah satunya. Di tengah perjalanan, saya memaksakan diri untuk ikut rombongan melanjutkan perjalanan menuju puncak, meski saya cukup tahu bahwa kondisi saya tak cukup baik untuk melanjutkan. Saya tak ingin tinggal di saat yang sama dia memutuskan untuk tinggal karena kondisinya yang juga tak memungkinkan. Keegoisan saya untuk tetap ikut, membuat rombongan kami gagal mencapai puncak karena kondisi saya melemah. Maaf untuk Kalian yang selama ini tak benar-benar tahu alasan saya untuk melanjutkan perjalanan. 

Satu hal yang saya sadari, besarnya usaha saya untuk menolak persaaan itu, ternyata tak pernah cukup sebanding dengan rasa yang ada.

September 2016
Bulan ini, pada hari yang hanya selisih sehari, masa lalu kami sama-sama melangsungkan pernikahan. Kebetulan?
Tentu tidak. Saya percaya semua adalah rencana Tuhan.

Kami tak melalui hari bersama, meski saya sempat mengajaknya untuk menghadiri pernikahan masa lalu saya. Mungkin Tuhan memang belum mengizinkan. Karena meski saya telah mengusahakan untuk kembali lebih awal dari sebuah perjalanan agar bisa menghadirinya, kemacetan membuat saya terjebak.

Setelahnya, pada sebuah pertemuan singkat, dia berkata, "Ikhlaskan saja! Doakan Kebahagaiaannya!"
Di hadapannya saya berkata, "Aku benar-benar tak apa. Kamu yang seharusnya mengikhlaskan :)" 
Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya berusaha keras untuk datang.  Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya menaruh rasa padanya.





December 04, 2018 No comments

Saya akan mengawali tulisan di blog ini dengan perjalanan saya hingga berhasil menjadi seorang istri. Saya menyebutnya berhasil, karena selain dia adalah seseorang yang sejak dahulu ada dalam bayangan saya saat ditanya soal kriteria pasangan, bahkan jauh sebelum saya mengenalnya, ada cerita di baliknya yang sempat membuat saya ingin menyerah saja.

Akhir satu kisah menjadi awal dari kisah ini :


20 Juli 2015
Beberapa jam sebelum hari pergantian usia, saya mengambil keputusan untuk berhenti menjalin hubungan dengan seseorang yang kala itu telah bermaksud untuk menghalalkan saya. Tak ada masalah di antara kami. Tapi keputusan ini berani saya ambil setelah hari-hari panjang saya memanjatkan doa untuk memohon petunjuk setelah kami menemui jalan buntu dalam usaha melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Saya, bukan tak ada rasa, tapi kala itu saya lebih percaya dengan keyakinan yang kuat untuk berhenti saja. Berat memang. Bahkan di balik keyakinan dalam keputusan itu, terselip ketidakyakinan pada diri "Dapatkah saya jatuh cinta lagi?". Tapi saya sadar, saya telah meminta petunjuk Tuhan, dan saya percaya bahwa keyakinan itu berasal dari Tuhan.

Kadang kita terlalu fokus pada keinginan yang kita anggap baik, hingga melupakan bahwa ada Kuasa Tuhan atas kehidupan kita. Pengalaman ini mengajarkan saya, bahwa sekuat apapun keinginan kita, jika Tuhan tak berkehendak, maka kita pun tak bisa memaksa. 

30 Mei 2016
Hari-hari setelah hubungan saya berakhir tak bisa dibilang mudah. Saya berusaha mencari kesibukan agar teralihkan dari pikiran tentang masa lalu saya. Kabar bahwa dia akan segera menikah semakin mengacaukan hari-hari saya. Saya dihantui pertanyaan akan kebenaran kabar itu. Dan jika memang benar, siapakah wanita itu? Saya sadar, bahwa semakin saya penasaran, semakin sulit bagi saya untuk melepaskan tanpa menoleh ke belakang. Hingga saya memberanikan diri untuk menanyakan secara langsung kepadanya. 

Dan ya, dia akan segera menikah. Dengan seorang yang namanya cukup familier di telinga saya. Hari itu, saya hancur. Tapi saya tak menyesali setiap keputusan yang telah saya ambil. Setelahnya, saya mengulang-ulang sebuah doa "Tuhan, jika saya jatuh cinta, jangan buat saya jatuh cinta pada ia yang bukan jodoh saya."

4 Agustus 2016
"Sudah seminggu saya sama Mbak Dira, baru kali ini saya lihat mbaknya bisa tertawa lepas," Begitu celetuk driver yang telah beberapa hari menemani perjalanan dinas saya di luar kota. Saya ingat betul celetukan itu. Kala itu saya berpikir, kedatangan teman-teman dekat saya adalah alasan utama saya merasa bahagia. Memang benar. Tapi hari itu, meski berulang kali berusaha mengingkarinya, saya meyakini sesuatu.
Pada suatu masa di kota yang penuh cahaya, aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Terlalu samar, hingga tak disadari mulanya.

Pada kawan sepermainan. Siapa yang menyangka. Tak pernah terjadi sebelumnya. "Benih-benih tak boleh ada sedekat apapun pertemanan lawan jenis terjalin," begitu konsep yang kuyakini. Tapi penyangkalan tak mengubah kenyataan.

Penyangkalan, pada akhirnya pun melahap pemiliknya. Aku lupa bahwa dunia bukan sebuah pasti dan ada kuasa atas apa yang akan terjadi. Kuasa Sang Maha Pembolak-balik hati.


November 28, 2018 1 comments

About me


Mr. & Mrs. Bahari

Follow Us

Labels

Buku Jurnal

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2019 (3)
    • ▼  May (1)
      • LINI MASA (V)
    • ►  February (2)
  • ►  2018 (4)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)

Created with by ThemeXpose