LINI MASA (II)

by - December 04, 2018


26-28 Agustus 2016
Banyak hal berubah. Jauh dari apa yang pernah saya bayangkan. Sekembalinya kami dari perjalanan yang membuka mata saya, hubungan pertemanan yang terjalin di antara kami semakin intens. Kami lebih sering bertukar kabar dan cerita receh. Menyenangkan sekaligus menakutkan. Menikmati sekaligus ingin berhenti. Karena yang saya tahu, kami tak saling melihat dengan cara yang sama. 

Pada pendakian pertama dalam hidup saya, 4 orang perempuan, 3 orang lelaki, dia salah satunya. Di tengah perjalanan, saya memaksakan diri untuk ikut rombongan melanjutkan perjalanan menuju puncak, meski saya cukup tahu bahwa kondisi saya tak cukup baik untuk melanjutkan. Saya tak ingin tinggal di saat yang sama dia memutuskan untuk tinggal karena kondisinya yang juga tak memungkinkan. Keegoisan saya untuk tetap ikut, membuat rombongan kami gagal mencapai puncak karena kondisi saya melemah. Maaf untuk Kalian yang selama ini tak benar-benar tahu alasan saya untuk melanjutkan perjalanan. 

Satu hal yang saya sadari, besarnya usaha saya untuk menolak persaaan itu, ternyata tak pernah cukup sebanding dengan rasa yang ada.

September 2016
Bulan ini, pada hari yang hanya selisih sehari, masa lalu kami sama-sama melangsungkan pernikahan. Kebetulan?
Tentu tidak. Saya percaya semua adalah rencana Tuhan.

Kami tak melalui hari bersama, meski saya sempat mengajaknya untuk menghadiri pernikahan masa lalu saya. Mungkin Tuhan memang belum mengizinkan. Karena meski saya telah mengusahakan untuk kembali lebih awal dari sebuah perjalanan agar bisa menghadirinya, kemacetan membuat saya terjebak.

Setelahnya, pada sebuah pertemuan singkat, dia berkata, "Ikhlaskan saja! Doakan Kebahagaiaannya!"
Di hadapannya saya berkata, "Aku benar-benar tak apa. Kamu yang seharusnya mengikhlaskan :)" 
Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya berusaha keras untuk datang.  Ah, dia tak tahu, saya sudah mengikhlaskan, itu sebabnya saya menaruh rasa padanya.





You May Also Like

0 comments