LINI MASA (IV)
1 Februari 2017
Sejak memutuskan untuk berhenti, saya masih bertemu dengannya karena memang kami berada dalam lingkup yang sama. Kami pun masih sering pulang kerja bersama. Semuanya masih sama, kecuali sikap saya yang lebih banyak diam. Cenderung sinis, meski dia berusaha bersikap manis. Cenderung acuh hingga membuatnya mengeluh.
Hari itu kami memutuskan untuk terlebih dahulu makan malam bersama sekembalinya dari kantor.Tak banyak obrolan di antara kami, tapi saya tahu rautnya menyimpan tanya, yang kemudian dilontarkannya setelah kami selesai makan.
"Kamu kenapa? Kamu marah?"Hening kemudian. Tak ada tanggapan setelah akhirnya terungkapkan.
"Tidak!"
"Kamu yakin?"
"...Aku memang marah. Tapi bukan padamu. Aku marah pada diriku sendiri karena harus menyukaimu!"
"..."
Saya bukan mengharapkan keajaiban. Saya hanya ingin menuntaskan apa yang saya rasakan. Saya berpikir, bahwa selagi kita bisa, jika pada akhirnya kita akan merasa sakit, mengapa kita tak mempersingkat rasa sakit. Dan bagi saya, cara tercepat menuntaskan dan mengikhlaskan adalah dengan menuntaskan rasa penasaran hingga tak ada lagi pertanyaan.
Nyatanya, semua di luar ekpektasi saya. Dia bungkam, tanpa sepatah pun kata. Kami pulang begitu saja. Ternyata sia-sia. Saya malu, juga sedikit kecewa. Tapi tak ada air mata.
Sesampainya di rumah, saya kirimkan pesan singkat untuknya. Meminta maaf karena telah membebaninya dengan apa yang saya rasa, dan memintanya untuk bersikap biasa saja, karena saya pun memutuskan untuk bersikap biasa, seakan tak terjadi apa-apa.
Pesan singkat saya berbalas "Iya tak apa. Saya akan bersikap seperti biasa. Maaf, selama ini saya sudah menggapmu seperti adik sendiri."
Setelahnya, saya benci dengan panggilan "dek" darinya.

0 comments